




Sempat diguyur hujan sore hari. Tim sound sempat terjadi kesibukan kecil yang tiba-tiba, tenda yang kurang lebar segera diganti dengan tenda yang lebar. Hanya sebentar saja hujan turun, bikin Pasar Seni Ancol makin sejuk. Padahal sesiangan panasnya bagai ada 5 matahari di atas Ancol!
Beberapa latihan sempat tertunda. Namun tak mengurangi kenikmatan menonton pertunjukan langka ini.
Jika anda datang ke Pasar Seni Ancol tanggal 8 Desember 2007 kemarin, maka anda akan merasakan rasa lain dari irama Indonesia. Musik etnik khas Indonesia bercampur dengan musik melodi masa kini. Tak jarang jika ditemukan banyak kejutan dalam pengalaman dengar kita.
Pukul 19.30 WIB Shanaz Haque dan Farid Shigeta, selaku MC, langsung ngebuka acara yang bertema penghijauan ini. “Menanam, Menumbuhkan Harapan” tajuk acaranya. Kedua MC pun berkali-kali mengkampanyekan tentang bahaya eksploitasi hutan dan pentingnya reboisasi. Yang menarik, di depan panggung ada sekitar 4000 bibit pohon jati yg siap dibagkan kepada penonton di akhir acara.
Acara dibuka dengan tarian multi etnis sambil menabuh tamborin. Tarian ini lebih menonjolkan etnis Jepang. Kemudian Viky Sianipar tampil dengan formasi yg kurang lebih sama dengan yang biasa ditampilin di Java Jazz. Membawain beberapa lagu dari album Toba Dreams dan Indonesian Beauty, Viky tampil atraktif bermain keyboard juga gondang batak di beberapa lagu. Teuku Rio juga mengiringi pementasan Viky Sianipar. Dengan membawakan musik cyang berjudul Journey to Deli dengan memberi ruang untuk jamming dengan beberapa player seperti pemain suling, gitar dan Viky sendiri pada keyboard. Palti Raja yang kerap dimaenkan juga asik banget dan bikin beberapa penonton manggut-manggut dan bergoyang-goyang. Sesudah pentas, Viky ngobrol sebentar dengan MC sambil nunggu set panggung buat next performer. Selain ngobrol, Viky juga 'dihadiahi' bibit pohon jati untuk ditanam.
Musisi selanjutnya adalah kolaborasi tiga mantan personil Krakatau tampil berikutnya setelah Viky Sianipar. Yaitu; Indra Lesmana (piano), Gilang Ramadhan (drums) dan Pra Budhi Dharma (bass) yg tergabung dalam Kayon - The Three Of Life tampil asik banget. Meski cuma bertiga tapi musik mereka terasa penuh mengusung tema Indonesia secara keseluruhan, mereka memainkan lagu-lagu yg mewakili beberapa daerah Indonesia seperti Betawi, Jawa, Sunda, Bali dan Melayu. Kerennya, mereka tidak membutuh alat musik tradisional untuk menciptakan kesan etnik tersebut. Dentingan piano, pukulan drum dan cabikan bass mereka cukup mampu untuk membuat kesan etnik. Bahkan Indra Lesmana pun tak hanya memainkan tuts piano tapi juga memetik senar piano yg ada di dalam badan piano untuk mengeluarkan bunyi-bunyi yg unik. Seperti juga Viky, mereka pun sempat ngobrol sebentar dengan MC dan penonton, serta tak lupa diberi oleh-oleh bibit pohon jati..
Musik Asia Selatan mengalun rancak. Diiringi tarian kembali menyelingi acara. Dua penari india yang tampil satu persatu meliuk-liuk di bawah panggung memukau penonton. Jangan salah, tari india yg ini jauh beda dengan yg biasa ada di film-film india.
Selanjutnya Balawan tampil setelah tarian india tersebut. Seperti biasa, ia bersama rekan-rekan Batuan Etnik Fusion dan satu violis tamu. Balawan membawakan beberapa lagu yang sudah lumayan akrab di kuping penggemar jazz & world music seperti Magic Reong dan Mainz In My Mind.. Yang agak berbeda kali ini adalah Balawan tidak memainkan gitar double necknya melainkan dua gitar yg salah satunya dipasang di sisi panggung.. Malam itu juga tak ada atraksi 'tabuh perkusi' di gitarnya. Tapi itu tak mengurangi keasikan penampilannya karena beberapa lagu juga diperpanjang durasinya dengan jamming.. dan kselesai tampil, Balawan pun tak luput dari pemberian amanat penanaman pohon jati setelah sebelumnya sempet ngobrol2 dengan MC dan penonton.
Simak Dialog tampil selanjutnya, nama yang unik ditambah kekhasan dari grup musik ini adalah kendang sectionnya. Ketiga personelnya itu terlihat menyatu dengan instrumen yg lain. Sengaja mereka memampatkan durasi musik mereka, karena versi aslinya memang sangat panjang, apalagi hari juga semakin malam.
Selesai Simak Dialog, Nugie tampil akustikan. Agak janggal juga melihat Nugie tampil di tengah-tengah performe world music. Tapi memang tema acara itu memang sangat cocok untuk Nugie memang ikon dari kecintaan terhadap alam. Tampil minimalis dengan gitar akustik, Nugie sangat komunikatif dengan penonton. Bukan hanya karena lagu-lagunya yang sudah akrab di kuping penonton, tapi juga di tengah-tengah lagu Nugie menitipkan pesan-pesan tentang lingkungan hidup yang juga menyatu dengan lagunya.
waktu Nera tampil menutup acara, scating vokalisnya mirip-mirip dengan seruan-seruan a la papua pedalaman.
Acara yang menarik untuk selalu disimak dan memanjakan indera pendengaran. Sebuah pengalaman lain bagi rasa dalam batin. Mengobati rasa kangen pada impuls-impuls di Pasar Seni Ancol. Sampai Jumpa dalam Ancol World Music 2008.
Tulisan dan beberapa foto dari Troy (http://sitroy.multiply.com/photos/album/20/Konser_Ancol_World_Music_Festival