Minggu, 26 Juli 2009

Pameran Tenun Kontemporer :Merajut Waktu Menjalin Makna

Tenun dan Seni Tradisi yang Berevolusi.

Kain tenun dan hasil tekstil lainnya adalah suatu warisan kekayaan peninggalan para leluhur bangsa Indonesia yang tak ternilai harganya. Hampir seluruh kelompok etnis di wilayah Nusantara hingga saat ini masih melakukan pembuatan tenun, baik secara turun temurun maupun dalam wilayah industri kecil dan menengah. Hasil-hasil tenun dari Nusantara juga menjadi salah satu bentuk artefak budaya yang paling menyebar dihampir seluruh museum dibelahan dunia. Kekaguman pada corak atau motif dan pola-pola yang rumit namun indah serta halus dan mempunyai kandungan makna budaya menjadikan para pencinta kain tenun dan peneliti diseluruh dunia mengakui bahwa estetika kain tenun di Indonesia memang begitu beragam dan bernilai budaya tinggi.


Oleh Rifky Effendy

Maka selain sebagai identitas budaya, hasil-hasil tenunan dan tekstil lainnya memainkan peranan penting dalam kehidupan sosial - ekonomi masyarakatnya. Dibeberapa daerah di tanah air, seperti kain batik telah menjadi industri yang bukan hanya mendatangkan pendapatan bagi sekelompok orang, tetapi menjadi sumber pendapatan daerah dan mungkin saja negara. Karena bagaimanapun kain tenun dan hasil tekstil lainnya masih dipergunakan untuk upacara – upacara khusus adat – istiadat dan ritual lainnya, bahkan penggunaannya masih berlangsung dalam keseharian masyarakat. Dalam perkembangannya, secara inovasi, kain tenun telah mengalami evolusi dalam teknik maupun coraknya. Namun dari bahan, motif serta pola tersebut kita pun bisa menangkap pengaruh-pengaruh jamannya. Bahkan dalam penerapannya kain-kain tenun bisa menjadi materi yang menarik dijadikan gubahan yang dikreasikan pada pakaian oleh para disainer fesyen kontemporer maupun untuk kain pelapis atau Upholstery. Ini juga menunjukan bahwa seni tradisi tidaklah mandek, bahkan sebaliknya menunjukan kreativitasnya.




Pameran “Merajut Waktu Menjalin Makna” merupakan suatu tinjauan bagaimana hasil tenun Nusantara terus berkembang sesuai dengan perubahan-perubahan sosial, budaya dan ekonomi masyarakatnya. Oleh karenanya, mengamati pola-pola, motif dan warna serta penerapannya menjadi sangat penting. Karena sebagai praktik budaya, elemen-elemen didalam kain tenun mempunyai makna simbolik yang terkait dengan faktor eksternal seperti sosial,politik dan kebudayaan. Hal ini bisa dicermati dari tingkat kehalusan teknik tenun, materi atau bahan hingga penerapan motifnya.

Pengaruh kontak budaya melalui jalur – jalur perdagangan dari peradaban lampau, hingga kemudian dengan rentang masa era kolonial, telah menghasilkan beragam olahan artistik dalam kehidupan seni tradisi khususnya kain tenun. Pengaruh ini samasekali tidak melemahkan keberadaan seni tenun sebagai sebuah bentuk seni tradisi dalam konteks kehidupan sakral , tapi justru memperkaya nilai-nilai estetikanya. Bahkan lebih jauh bila ditelusuri dan pencermatan melalui motif-motifnya, niscaya kita bisa membaca tanda-tanda budaya atau narasi. Oleh karena itu seni kriya , khususnya seni tenun mempunyai dimensi nilai simbolik. Seperti yang dikatakan seorang pemerhati kain tenun songket Minang berkebangsaan Swiss, Bernhard Bart, yang mengemukakan bahwa keunikan motif lama songket Minangkabau adalah setiap motif mengandung makna filosofis. (Kompas, 17 February 2006)

Bersama-sama Tria Basuki dan Yayasan Cita Tenun Indonesia (CTI), yang mengembangkan secara khusus kain tenun nusantara, menyeleksi karya-karya tenun pengembangan tradisi dengan keberagaman teknik dasar serta corak artistik. Puluhan ragam hasil tenun dari berbagai wilayah ditampilkan di NAS, mulai dengan pola yang delicate ; rumit serta halus dengan pola stilasi bentuk dan geomteris yang berlapis seperti dari Aceh, Minangkabau dan Palembang, hingga yang tampak lebih bebas dengan pola sederhana maupun figuratif, namun dinamis seperti dari Bali, Nusa Tenggara atau warna cerah dari Makassar, serta Badui yang lebih minimalis serta didominasi warna yang gelap. Sehingga keluasan wilayah ini memberikan kita gambaran bagaimana praktik tenun merepresentasikan juga estetik sebuah masyarakat yang majemuk. Adapula karya-karya perancang mode ternama maupun benda-benda keseharian yang menggunakan tenun maupun dilapisi kain tenun sebagai suatu alternatif yang secara kreatif bisa dikembangkan lebih lanjut.

Seni Tekstil Kontemporer

Seiring dengan praktik tenun tradisi, praktik seni tekstil sebagai bagian dari praktik seni rupa modern -selain seni lukis dan patung- juga berlangsung, terutama dilembaga pendidikan seni rupa modern. Walaupun keberadaannya dibawah jurusan desain (di FSRD ITB) dan Kriya (di ISI-Jogja), yang lebih mengarah pada seni terapan, tetapi saat ini beberapa alumninya mengembangkan bentuk ungkapan artistik yang individual seperti juga bentuk karya seni murni. Tetapi kemunculannya dalam dunia pendidikan seni modern begitu sangat terlambat. Seperti halnya yang pernah diutarakan oleh kritikus Sanento Yuliman (alm.) , dalam sebuah artikel pameran tahun 1986 menyebutkan bahwa: Gerakan seni rupa modern kita – yang kota dan kelas menengah itu – tidak cepat tanggap akan kenyataan seni tenun dan tekstil lainnya dalam budaya masyarakat kita, beliau mengemukakan kritiknya :

Modernisme, khususnya pada tahap awal dan pada kebanyakan perupa, telah menjangkitkan rabun dekat : melihat tradisi bangsa sendiri secara samar-samar. Lahir dari kandungan penjajahan dan kontak kebudayaan, gerakan seni modern di tanah air kita dengan bersemangat merengkuh gagasan-gagasan Barat dan sejarah seni Eropa. Gagasan tentang keutamaan seni lukis (dipandang sebagai induk seluruh seni rupa), gagasan rendahnya kriya (craft), tentang asas individualisme dalam seni, dianggap sahih secara universal. Dalam pada itu, lambannya komunikasi menyebabkan perubahan dalam seni dan estetika Barat, terutama yang mutakhir, tertangkap hanya sayup – sayup dan ditanggapi dengan keraguan. (Sanento, 2001: 186) 1

Dalam wacana modernisme barat yang dikotomis, praktik kriya bahkan dihubungan dengan lawan dari seni murni (lukis-patung) yang superior, jenius, maskulin. Praktik kriya (keramik, tekstil, kayu, dan lainnya) dianggap lebih cenderung inferior, terlalu kolektif agraris, feminin. Walaupun saat ini dikotomi itu memudar tapi dalam keseharian, dominasi seni lukis masih terasa. Maka baru sekitar tahun 1972 studio tekstil dibuka di FSRD – ITB, yang menunjukan bahwa adanya keterlambatan dalam menanggapi pemikiran-pemikiran terhadap seni modern dan bahkan dalam mempertimbangkan kekayaan praktik budaya nusantara. Bahkan sebenarnya studio tekstil disana lebih mengarah pada pemenuhan dunia industri tekstilnya. Perkembangan kemudian, praktik seni berbasis tekstil dan serat dalam lingkungan akademisi menghasilkan perupa-perupa tekstil yang mengembangkan bentuk karya individual seperti tapestri , batik, hingga instalasi. Biranul Anas, Ratna Panggabean, Hasanudin, Yusuf Efendy, Lengganu, Sunaryo, Zaini Rais mungkin beberapa nama yang muncul dengan karya-karya seni tekstil dan serat sejak dekade 1980-an.

Karya-karya serat yang tampil dalam pameran kali ini, seperti Biranul Anas dan John Martono misalnya tetap menjelajahi berbagai teknik dan artistik seperti menjalin benang, memilin, mencelup, mengikat, menenun dan membatik hingga bordir yang cenderung industrial, di dalam suatu bentuk karya tapestri serta bentuk trimatra. Biranul sering menjelajahi materi-materi dasar serat dengan menggabungannya beberapa material dan bereksperimen dengan bentuk-bentuk trimatra, dengan pola-pola yang melintas batas formalisme tradisional. Ungkapan-ungkapan individu secara langsung diartikulasikan lewat gubahan warna, tekstur dan pola yang lebih bebas dari pakem –pakem maupun pola tertentu seperti pada karya-karya John Martono. Begitupun dengan karya-karya Caroline Rika, Abdul Sukur dan Rifqi Sukma yang eksploratif terhadap kemungkinan material yang dipermainkan dalam wujud karya yang cenderung mementingkan interaksi imajinatif.

Seperti yang diutarakan Sujud Dartanto, kurator dalam pameran “textstyleproject” di Bentara Budaya Jogjakarta, bahwa: “ Bentuk visual karya mereka berbeda dengan lazimnya seni serat yang orang lihat pada seni batik dan tapestri misalnya. Dalam terma masa kini, karya-karya mereka memperlihatkan bentuk kontemporer. Artinya, cara mereka membentuk tidak ingin terikat pada pakem gaya tradisional. Penjelahan bentuk ini membuka bentuk pengucapan personal. Membentuk stilisasi dan gaya tersendiri. Di sini kita bisa mengapresiasi bahwa karya-karya mereka ini membuka peluang untuk melakukan berbagai penjelahan bentuk baru. Benang dalam hal ini menjadi karya objek yang tersusun dari berbagai macam unsur material. Bidang seni serat ini jelas tidak meninggalkan aspek craftsmanship, ketelitian dalam menentukan dan memilih bahan. Ketiganya berkutat pada bagaimana unsur benang bisa sedapat mungkin melahirkan bahasa artistik. Juga nampak bahwa unsur benang mereka artikan pula sebagai sebuah teks yang tengah menenun dan membentuk dirinya menjadi sebuah style.”

Selain bertiga diatas, jelajah bentuk trimatra yang meruang juga dilakukan oleh Nuri Fatima yang menggunakan banyak teknik menata kain perca atau patchwork. Karyanya berupa himpunan bentuk-bentuk seperti gunung atau bantal kerucut menjadi simbol personal dari suatu kenangan pribadinya dan kemudian mengajak pengamat untuk lebih aktif masuk pada dunianya. Sedangkan sekumpulan perupa muda , Kelompok Simponi (Sindikat Monster Poni) dari Jogjakarta yang terdiri dari Dian Ariyani, Elia Nurvista, dan Gintani Nur Apresia Swastika, menghadirkan gubahan karya membentuk teks “ MADE IN CHINA” yang terdiri dari susunan huruf-huruf dengan dibungkus kain batik sehingga memberikan makna yang ambigu bahkan ironis. Motif dan kain batik menjadi sebuah identitas budaya bangsa dan karya ini seolah menyindir dan memaksa kita untuk mempertimbangkan terus keberadaannya dalam kehidupan yang global ini.

Dalam praktik seni rupa kontemporer, persoalan medium ungkap tak lagi dilihat secara ideologis atau tersekat-sekat. Dunia gagasan seolah menjadi keutamaan dan fisik karya merupakan kendaraan untuk strategi perupa menciptakan ruang-ruang pemaknaan. Penggunaan teknik bordir misalnya, yang lebih cenderung industrial, bisa dimanfaatkan sebagai alat dalam menghasilkan garapan artistik yang sesuai dengan ungkapan yang diinginkan maupun pemanfaatan dalam mencari watak atau karakter yang khas.

Dalam pameran ini para perupa lebih mengutamakan watak khas serat benang untuk mengonstruksi imaji. Erik Pauhrizi menghadirkan potret – potret wajah pesohor sinema masa lalu, dengan bordiran hitam-putih seperti juga ada kesamaan watak drawing dengan garis maupun print, atau cetak mutakhir yang terdiri dari matrik dot maupun piksel. Sedangkan Eko Nugroho menggunakan watak bordir karena dalam keseharian masyarakat kontemporer, sering digunakan sebagai lencana (badge), mulai untuk seragam sekolah, pangkat kemiliteran, tanda lembaga pemerintah, hingga gang anak muda. Oleh karena itu bordir punya kaitan dengan identitas sosial. Sehingga dengan demikian gambar-gambar Eko yang bernuansa kritis namun jenaka mempunyai tempatnya yang pas.

Bagi perupa lainnya , medium dan teknik industri tekstil menjadi supplemen, seperti karya karpet Radi Arwinda dengan ikon Apetnya. Ia banyak terobsesi dan terpengaruh seni kartun Jepang atau Manga yang kemudian dipadukan dengan corak – corak dari seni tradisi. Pencarian jatidiri Radi dalam menciptakan karakter kartun dengan potret dirinya membentuk identitas karya-karyanya, dengan meleburkan karakter awan “megamendung” yang diambil dari corak batik maupun ukiran Cirebon kedalam ranah artistik manga. Karya Car-Pet dan Sof-Pet disini menggunakan idiom benda-benda keseharian ; karpet yang dibuat secara khusus yang menampilkan karakter Apet dan juga pasangannya, berupa sebuah sofa dengan bentuk dasar dari gubahan megamendungnya. Corak – corak dalam karya Radi menyadarkan kita bahwa kekayaan tradisi menjadi mungkin untuk dikaji dan dijelajahi menjadi sesuatu ikon yang lebih bergaya global.

Tenun dan Tekstil Dalam Kehidupan Saat Ini

Akhir kata, bahwa potensi seni tekstil di Indonesia merupakan suatu ladang gagasan yang mahaluas untuk dijelajahi serta dijadikan beragam bentuk artistik. Hasil – hasil tekstil, baik yang tradisionil maupun yang modern, yang manual maupun masinal mempunyai posisi penting dalam kehidupan masyarakat di Indonesia. Sebagai sebuah praktik budaya seperti hasil seni, tenun dan tekstil mempunyai fungsi simbolik. Oleh karena itu kajian – kajian terhadap perkembangan seni tenun tradisi dan sebagai medium ungkap seni kontemporer menjadi suatu kepentingan yang bakal mampu memberikan makna dalam formasi global saat ini. Bahkan pada saat ini kajian budaya mutakhir menjadikan seni tenun dan tekstil sebagai salah satu wahana dalam memahami suatu konteks budaya. Seorang akademisi Australia, Sue Rowly (1999: 7) mengatakan bahwa pada dasarnya hasil kriya seringkali digunakan sebagai bahan kajian ilmu pasca-kolonial. Alih-alih, kriya bisa digunakan untuk memaknai nilai diluar sejarah barat dan suatu model pertahanan yang kreatif tanpa harus disejajarkan dengan seni kontemporer barat yang mengarah pada praktik kritik, sebagai suatu keberbedaan (difference). Sebagai suatu wilayah alternatif penelusuran (trajectory) sejarah lokal yang khas.

Oleh karena itu, pameran ini diharapkan memberikan suatu alternatif pengamatan terhadap pemaknaan seni tenun warisan leluhur dan sekaligus budaya kontemporer Indonesia saat ini.

Pameran Tenun Kontemporer
10 - 30 Juli 2009

“HYBRIDIZATION” Inauguration Of North Art Space



“Dalam konteks seni rupa, perbincangan seputar hibridisasi diawali pada praktik seni rupa kontemporer di Indonesia terutama ketika dimulai dengan perdebatan pos-modern, sejak perhelatan besar Biennale – Jakarta IX di Taman Ismail Marzuki- Jakarta tahun 1993-94. Kurator Jim Supangkat dalam pengantarnya menggugat modernisme dan seni modern di Barat, serta munculnya gejala budaya yang menolak segala keteraturan dan kemapanan yang dibentuk sejarah seni rupa Barat. Posmodernisme merupakan gejala budaya dimana segala bentuk seni dan budaya-budaya berbaur dan bercampur, hingga pemikiran-pemikiran lokal dan tradisional terakomodasikan lewat ungkapan-ungkapan seni.



Hibridisasi seni rupa kontemporer, bukan saja berangkat dari pembauran medium dan budaya, tetapi juga bagaimana konstruksi pikiran dan bahasa rupa atau tanda-tanda yang telah bersilang dengan beragam jaman dan praktik-praktik sosial lainnya. Maka seiring dengan perkembangan jaman, praktik dan pemikiran seni rupa modern di Indonesia, hibridisasi menjadi suatu proses pembebasan diri terhadap dogma-dogma sejarah seni rupa barat (kolonialisme), mempertimbangkan adanya sejarah seni rupa modern Indonesia -termasuk pertumbuhan infrastruktunya- memberikan kemungkinan praktik seni yang melibatkan aspek - aspek kehidupan sosial masyarakat dalam pemikiran-pemikirannya, juga dengan mempertimbangkan budaya lokal. Maka hibridisasi menjadi proses pemikiran yang tengah berkecamuk dan berlangsung saat ini”. Itulah catatan Rifky Effendy sebagai kurator dalam pameran yang bertajuk “Hybridization” yang di helat dalam rangka Inauguration of North Art Space, pada hari Jumat 17 April 2009. Prosesi resminya akan diawali pada pukul 18.30 WIB dilanjutkan pameran yang akan berlangsung sampai tanggal 3 Mei 2009.



North Art Space (NAS) merupakan bentuk baru, yang dulunya merupakan galeri Pasar Seni Ancol. NAS hadir dengan semangat dan rasa baru. Menjadi pusat kegiatan pengembangan dan penyajian karya seni rupa yang dinamis, kreatif, inovatif, dan demokratis untuk meningkatkan apresiasi seni masyarakat Indonesia yang memiliki jati diri budaya kuat di tengah pergaulan dunia. NAS akan menjadi embrio bagi hadirnya ruang yang lebih besar, yaitu Pasar Seni Ancol itu sendiri. Kejayaan Pasar Seni Ancol kini perlu disegarkan kembali. Dan NAS akan menjadi sarana bagi seluruh seniman secara lebih terbuka. NAS merupakan bagian penting dari revitalisasi tersebut. “Ruang galeri yang baru telah berubah total. Kini arsitektur ruang dalamnya lebih berkesan clean, minimalis dan modern. Dari sisi ini sudah terlihat jelas NAS memang dibangun sebagai jawaban atas kebutuhan ruang publik bagi praktik seni rupa masa kini/kontemporer. Ruang seni yang dibangun diharapkan bisa menjadi ruang dialog serta interaksi budaya yang produktif bagi masyarakat”, begitu menurut Chris Dharmawan, dari Semarang Gallery.



“Hybridization” merupakan pameran pertama yang dilakukan oleh NAS, sekaligus menjadi acara pembukaan galeri secara resmi. Pameran ini dirancang bersama dengan Galeri Semarang, sebagai gallery partner. Hibridisasi seni rupa kontemporer tidak hanya saling membaurkan masalah medium, tetapi kehidupan masyarakat serta budaya lokal dan pemikiran-pemikirannya terakomodasi dalam proses pengungkapan karya seni.




Seniman-seniman yang dipilih dalam pameran ini memamerkan karya-karya dalam beragam medium. Haris Purnomo, Arie Dyanto, Soni Irawan, Sapto Sugiyo Utomo, Galam Zulkifli, Andy Dewantoro, Hanafi, NGK Ardana, Gede Mahendra Yasa, Agus Sumiantra dan Irwan Bagja Dermawan (Iweng) memamerkan lukisan. Sementara Heri Dono, Agus Suwage, Yani Maryani, Ketut Moniarta dan Albert Yonathan menampilkan obyek/instalasi. Lalu dari fotografi/digital artwork diisi oleh FX Harsono, Indra Leonardi dan Davy Linggar. Adapun Jompet, Tromarama dan Prilla Tania menampilkan video art. Sedangkan Saftari bermain dengan dua medium: lukisan dan obyek/instalasi.

Kamis, 12 Maret 2009

NORTH Art Space. Gallery Baru di Pasar Seni Ancol

Pasar Seni Ancol, Jakarta, tampaknya mulai merubah image dengan melakukan revitalisasi besar-besaran.



Gedung manajemen yang didalamnya terdapat banyak fasilitas dari kelas-kelas seni dan juga kantor Pasar Seni Ancol serta kantor Ancol Art Academy mulai dirombak. Galeri yang berada di atas juga dilakukan perombakan.






Desain ulangnya tampak lebih modern, walaupun belum selesai dan masih banyak material bangunan di depannya. Bagian dalamnya pun juga tampak nyaman dengan penikmat ruang pameran bisa terlihat dari bawah. Dan yang di bahwah bisa melihat suasana di galeri bagian atas.



Galeri Pasar Seni dengan sudut pandang dari lantai dasar.



Tangga menuju Galeri Pasar Seni Ancol di lantai 2.



Lantai 1 dilihat dari lantai 2.
Bagian relling tang terbuat dari kaca yang kuat menjadikan tempat ini lebih tampak berkelas.



Pemandangan di dalam galeri (lantai 2)
Sekarang tampak lebih luas dengan tata cahaya yang akan membuat karya-karya yang dipamerkan menjadi fokus dan berkelas.

~~~

NORTH Art Space. Itulah nama yang akan disematkan pada galeri baru di Pasar Seni Ancol ini. North Art Space (NAS) merupakan tempat berekspresi bagi para seniman di Indonesia. Tak hanya sebatas seniman di dalam Pasar Seni saja, tetapi seluruh seniman yang memenuhi kualitas untuk tampil melakukan ekshibisi di galeri atau area Pasar Seni Ancol.

NAS diharapkan menjadi pusat kegiatan pengembangan dan penyajian karya seni rupa yang dinamis, kreatif, inovatif, dan demokratis untuk meningkatkan apresiasi seni masyarakat Indonesia yang memiliki jati diri budaya kuat di tengah pergaulan dunia yang pada akhirnya bermuara pada kegiatan bisnis yang mengontribusikan keuntungan untuk perusahaan

Untuk mencapai hal tersebut maka NAS mengembangkan potensi karya seni rupa dengan mengedepankan kualitas karya. Mengembangkan karya seni rupa dengan memberi ruang kepada seniman berpotensi. Menghimpun, melestarikan, dan mengembangkan karya seni rupa dalam lingkup nasional maupun internasional. Memberdayakan kreatifitas dan profesionalisme pelaku seni melalui program pameran, pendidikan, penelitian, penukaran, workshop, kompetisi dan komitmen. Mengembangkan pemikiran, pandangan dan tanggapan terhadap karya seni rupa dalam kerangka peningkatan wawasan dan perluasan komunitas kreator dan apresiator. Memberikan pembelajaran seni kepada publik kelalui program yang bersifat edukatif-kultural dan rekreatif.

Bisnis karya seni adalah sebuah bisnis yang tidak mengenal kata surut. Seiring berjalannya tahun, bisnis ini tetap berkembang seakan mengabaikan kondisi perekonomian global. Dari pengalaman beberapa galeri besar, ketika krisis ekonomi tahun 1997 melanda Asia termasuk Indonesia, bisnis ini tetap melangkah ke depan. Bahkan ketika krisis di Indonesia belum pulih, ada galeri Indonesia yang mampu membuka cabangnya di luar negeri seperti di Singapura.

Membanjirnya perupa dan galeri dari Indonesia sebagai suatu berkah harus dibarengi dengan ketajaman indera bisnis pelakunya. Sisi komersialisasi suatu galeri akan dapat digali secara maksimal dengan menentukan strategi bisnis yang tepat

Nama besar Ancol sebagai salah satu pelaku bisnis rekreasi yang berada di bawah payung pariwisata merupakan modal luar biasa. Pariwisata memiliki saling keterkaitan dengan seni, dimana pariwisata membutuhkan seni. Dalam hal ini seni ditempatkan pada posisi yang strategis yaitu sebagai salah satu obyek pariwisata bergengsi di Ancol Dengan berlokasi di ibukota negara, Ancol merupakan tempat yang strategis dalam memasarkan seni rupa karena merupakan tujuan turis domestic maupun asing.

Rabu, 09 Juli 2008

Pengumuman Nominator Jakarta Art Awards 2008

Silakan klik di sini:



Untuk para nominator, harap mengirimkan karya asli ke alamat:

Panitia Jakarta Art Awards 2008
Pasar Seni Ancol
Jl. Lodan Timur no. 7
Jakarta Utara
14430

Sebelum tanggal 16 Juli 2008.

Minggu, 20 April 2008

Jakarta Art Awards

Pemerintah DKI Jakarta dan Pasar Seni Ancol Jakarta mengajak para pelukis Indonesia untuk berkompetisi secara terbuka dalam Jakarta Art Awards 2008. Kompetisi ini adalah untuk ketiga kalinya, setelah DKI Jakarta dan Pasar Seni Ancol sukses menyelenggarakan Golden Palette Awards 2005 dan Jakarta Art Awards 2006.


TEMA : WARNA-WARNA JAKARTA


Sub Tema:

  1. Jakarta Representasi Indonesia

  2. Jakarta Dalam Balada

  3. Jakarta Negeri Impian?


Penghargaan dan Hadiah:

Memperebutkan 7 penghargaan dengan total hadiah Rp. 230.000.000,-

  • Piala Penghargaan + Piagam


Dewan Juri:

1. DR. Ing. H. Fauzi Bowo (Kolektor, Gubernur DKI Jakarta)

2. Prof. DR. Miranda Goeltom (Pemerhati seni)

3. DR. Hc. Ir. Ciputra (Arsitek, kolektor)

4. Prof. Srihadi Soedarsono, MA. (Pelukis)

5. Drs. Nyoman Gunarsa (Pelukis)

6. Agus Dermawan T. (Kritikus seni)

7. Drs. Soewarno Wisetrotomo, M.Hum. (Kritikus, akademisi)

8. S. Malela Mahargasarie (Pengamat seni)

9. Efix Mulyadi (Pengamat seni)


Syarat Keikutsertaan:

  1. Peserta minimal berusia 15 tahun, WNI dan berdomisili di Indonesia.

  2. Peserta menyertakan fotokopi KTP atau identitas lain.

  3. Media yang digunakan bebas dengan ukuran antara 50 sampai 200 centimeter.

  4. Peserta mengirimkan foto lukisan dalam ukuran 10 R, dengan disertakan; judul lukisan, ukuran, media, tahun pembuatan yang ditulis di balik foto dengan disertai konsep, isi atau muatan karya yan dikompetisikan.

  5. Peserta boleh mengirimkan maksimal 5 (lima) karya dan diwajibkan menyertakan 2 foto karya lain untuk referensi bagi Dewan Juri.

  6. Karya yang boleh diikutkan adalah ciptaan tahun 2007 dan 2008.

  7. Pelukis mengirimkan lukisan dengan biaya sendiri, dan panitia akan mengembalikan lukisan para pemenang dan finalis dengan biaya panitia.

  8. Foto lukisan diterima selambat-lambatnya oleh panitia tanggal 1 Juni 2008, cap pos.

  9. Nominator kompetisi akan dihubungi secara tertulis oleh panitia dan akan diumumkan pada tanggal 22 Juni 2008.

  10. Pemenang kompetisi akan diumumkan bulan Juli 2008 di Pasar Seni Ancol.





Alamat Panitia Lomba:

Karya-karya yang disertakan dikirim ke :

Panitia Jakarta Art Awards 2008

PASAR SENI ANCOL

Jl. Lodan Timur No. 7

Jakarta Utara, 14430

Telp./Fax. 021-64710319

CP : Drs. Bogang Suharno (081310636733)

Dhanan (021 98762921)

e-mail : jaa@ancol.com

Jumat, 14 Desember 2007

Laporan: Ancol World Music 2007






Sempat diguyur hujan sore hari. Tim sound sempat terjadi kesibukan kecil yang tiba-tiba, tenda yang kurang lebar segera diganti dengan tenda yang lebar. Hanya sebentar saja hujan turun, bikin Pasar Seni Ancol makin sejuk. Padahal sesiangan panasnya bagai ada 5 matahari di atas Ancol!
Beberapa latihan sempat tertunda. Namun tak mengurangi kenikmatan menonton pertunjukan langka ini.

Jika anda datang ke Pasar Seni Ancol tanggal 8 Desember 2007 kemarin, maka anda akan merasakan rasa lain dari irama Indonesia. Musik etnik khas Indonesia bercampur dengan musik melodi masa kini. Tak jarang jika ditemukan banyak kejutan dalam pengalaman dengar kita.

Pukul 19.30 WIB Shanaz Haque dan Farid Shigeta, selaku MC, langsung ngebuka acara yang bertema penghijauan ini. “Menanam, Menumbuhkan Harapan” tajuk acaranya. Kedua MC pun berkali-kali mengkampanyekan tentang bahaya eksploitasi hutan dan pentingnya reboisasi. Yang menarik, di depan panggung ada sekitar 4000 bibit pohon jati yg siap dibagkan kepada penonton di akhir acara.

Acara dibuka dengan tarian multi etnis sambil menabuh tamborin. Tarian ini lebih menonjolkan etnis Jepang. Kemudian Viky Sianipar tampil dengan formasi yg kurang lebih sama dengan yang biasa ditampilin di Java Jazz. Membawain beberapa lagu dari album Toba Dreams dan Indonesian Beauty, Viky tampil atraktif bermain keyboard juga gondang batak di beberapa lagu. Teuku Rio juga mengiringi pementasan Viky Sianipar. Dengan membawakan musik cyang berjudul Journey to Deli dengan memberi ruang untuk jamming dengan beberapa player seperti pemain suling, gitar dan Viky sendiri pada keyboard. Palti Raja yang kerap dimaenkan juga asik banget dan bikin beberapa penonton manggut-manggut dan bergoyang-goyang. Sesudah pentas, Viky ngobrol sebentar dengan MC sambil nunggu set panggung buat next performer. Selain ngobrol, Viky juga 'dihadiahi' bibit pohon jati untuk ditanam.

Musisi selanjutnya adalah kolaborasi tiga mantan personil Krakatau tampil berikutnya setelah Viky Sianipar. Yaitu; Indra Lesmana (piano), Gilang Ramadhan (drums) dan Pra Budhi Dharma (bass) yg tergabung dalam Kayon - The Three Of Life tampil asik banget. Meski cuma bertiga tapi musik mereka terasa penuh mengusung tema Indonesia secara keseluruhan, mereka memainkan lagu-lagu yg mewakili beberapa daerah Indonesia seperti Betawi, Jawa, Sunda, Bali dan Melayu. Kerennya, mereka tidak membutuh alat musik tradisional untuk menciptakan kesan etnik tersebut. Dentingan piano, pukulan drum dan cabikan bass mereka cukup mampu untuk membuat kesan etnik. Bahkan Indra Lesmana pun tak hanya memainkan tuts piano tapi juga memetik senar piano yg ada di dalam badan piano untuk mengeluarkan bunyi-bunyi yg unik. Seperti juga Viky, mereka pun sempat ngobrol sebentar dengan MC dan penonton, serta tak lupa diberi oleh-oleh bibit pohon jati..

Musik Asia Selatan mengalun rancak. Diiringi tarian kembali menyelingi acara. Dua penari india yang tampil satu persatu meliuk-liuk di bawah panggung memukau penonton. Jangan salah, tari india yg ini jauh beda dengan yg biasa ada di film-film india.

Selanjutnya Balawan tampil setelah tarian india tersebut. Seperti biasa, ia bersama rekan-rekan Batuan Etnik Fusion dan satu violis tamu. Balawan membawakan beberapa lagu yang sudah lumayan akrab di kuping penggemar jazz & world music seperti Magic Reong dan Mainz In My Mind.. Yang agak berbeda kali ini adalah Balawan tidak memainkan gitar double necknya melainkan dua gitar yg salah satunya dipasang di sisi panggung.. Malam itu juga tak ada atraksi 'tabuh perkusi' di gitarnya. Tapi itu tak mengurangi keasikan penampilannya karena beberapa lagu juga diperpanjang durasinya dengan jamming.. dan kselesai tampil, Balawan pun tak luput dari pemberian amanat penanaman pohon jati setelah sebelumnya sempet ngobrol2 dengan MC dan penonton.

Simak Dialog tampil selanjutnya, nama yang unik ditambah kekhasan dari grup musik ini adalah kendang sectionnya. Ketiga personelnya itu terlihat menyatu dengan instrumen yg lain. Sengaja mereka memampatkan durasi musik mereka, karena versi aslinya memang sangat panjang, apalagi hari juga semakin malam.

Selesai Simak Dialog, Nugie tampil akustikan. Agak janggal juga melihat Nugie tampil di tengah-tengah performe world music. Tapi memang tema acara itu memang sangat cocok untuk Nugie memang ikon dari kecintaan terhadap alam. Tampil minimalis dengan gitar akustik, Nugie sangat komunikatif dengan penonton. Bukan hanya karena lagu-lagunya yang sudah akrab di kuping penonton, tapi juga di tengah-tengah lagu Nugie menitipkan pesan-pesan tentang lingkungan hidup yang juga menyatu dengan lagunya.

waktu Nera tampil menutup acara, scating vokalisnya mirip-mirip dengan seruan-seruan a la papua pedalaman.

Acara yang menarik untuk selalu disimak dan memanjakan indera pendengaran. Sebuah pengalaman lain bagi rasa dalam batin. Mengobati rasa kangen pada impuls-impuls di Pasar Seni Ancol. Sampai Jumpa dalam Ancol World Music 2008.

Tulisan dan beberapa foto dari Troy (http://sitroy.multiply.com/photos/album/20/Konser_Ancol_World_Music_Festival



Senin, 03 Desember 2007

World Music

Sewaktu saya pertama kali melihat musik Viky Sianipar, secara tak sengaja karena niatnya nonton launching album Sudjiwo Tedjo yang berjudul "Yaiyo", saya terkesima dan kagum dengan keindahan instrumen musik Indonesia yang dibawakannya dengan cara yang berbeda. Beberapa instrumen musik yang digunakan pun tidak saya kenal, namun mempunyai jenis bunyi yang unik.

Sebelumnya.
Dulu saya menyukai musik Djaduk Ferianto yang juga menggabungkan alat musik tradisional dengan alat musik modern. Malah semenjak kecil saya menyukainya, mungkin karena tinggal di kota yang sama d
an kental akan kegiatan keseniannya. Masih teringat sampai sekarang lagu "Menyanyi di Televisi" dan "Kopi Bu Sukopi"-nya Djaduk yang waktu itu nama bandnya, kalo tidak salah, Katebe. Bahkan bintang video klipnya pun saya masih inget. Didik Nini Thowok. Dan ditayangkan di TVRI Jogja. Djaduk menggabungkan irama keroncong dengan rasa rock yang lembut lewat gitar listrik dan drum-nya. Terkadang suara ukulele menimpali. Walaupun saya tak yakin dengan ingatan masa kecil saya itu, namun lagu-lagu itu sampai sekarang masih terngiang di kepala.

Saya tak tahu banyak tentang dunia permusikan. Membaca not aja saya kesusahan. Antara pentatonik dan diatonik
pun saya masih bingung. Namun saya juga terkagum-kagum saat Jaya Suprana, dalam sebuah acara di Jak-TV Jakarta, mendemonstrasikan dengan piano perbedaan antara intonasi musik dangdut, musik Sunda dan musik Jawa. Ai... betapa kayanya khasanah musik Indonesia ya!

***

Yang lebih mengagumkan lagi. Dan saya juga terkaget-kaget, setengah tak percaya. Aliran musik Indorock yang popul
er di Belanda lalu Eropa tahun 60'an diperkenalkan oleh putra-putra Indonesia. The Tielman Brothers nama grupnya. Asli Indonesia. Kebanyakan personelnya dari Maluku. Tapi memulai karir musiknya di Surabaya dan hijrah ke Belanda. Mereka menggabungkan musik keroncong yang terimbas juga budaya Portugis, dengan musik rock dan didominasi oleh permainan gitar yang mumpuni, maka lahirlah Indorock!

Hanya ironisnya. Jarang masyarakat Indon
esia yang mengetahuinya. Jauh sebelum Jimy Hendrix memainkan gitar dengan gaya yang memukau, The Tielman Brothers sudah memulainya lebih dulu. Bahkan permainan musik dan aksi panggung mereka yang enerjik menjadi trend baru di Eropa waktu itu! Mereka sudah memainkan gitar dengan kaki, gigi, memainkan gitar di belakang kepala bahkan dipukul dengan stick drum! Dan kabarnya, Sir Paul McCartney yang anggota The Beatles itu mengakui jika musiknya terinspirasi dari The Tielman Brothers (jika anda sudah mendengarkan musik The Tielman, pasti ada kemiripan dengan beberapa aransemen The Beatles atau di lagunya Elvis). Dan saat The Tielman melakukan konser di Jerman, Elvis Presley pun menyempatkan diri untuk hadir di sana.

***

Begitu kayanya khasanah musik Indonesi
a jika dieksplor. Digali. dan dikembangkan. Benih yang ditanam nenek moyang kita akan berkembang oleh anak-cucunya. Budaya tak pernah berhenti, dan sejarah tak pernah salah. Indonesia punya banyak budaya tinggi. Walau bangsa lain mengaku dirinya memilikinya, maka sejarah akan membenarkan dengan caranya.

Hal ini juga yang mengilhami untuk dibuatnya suatu event yang mengeksplor khasanah musik Indonesia. Tanggal 8 Desember 2007 ini, bertempat di Pasar Seni Ancol, musisi-musisi Indonesia akan
mengeksplor ragam musik tradisional. Inilah saatnya tradisionalisme bersatu dengan modernisme.

Dengan digawangi oleh Indra Lesmana,
Pra Budidharma, Gilang Ramadhan, Viky Sianipar, Balawan dengan Batuan Etchnic Fusion-nya, Nugie, Riza Arshad, Tohpati serta Nera mereka akan menunjukkan kekayaan musik Dunia dan Indonesia, khususnya. Tak lupa Shahnaz Haque dan Farid Shigeta akan memandu acara yang akan dimulai jam 7 malam itu.

Dunia begitu indah dengan iramanya.
Sayang jika acara ini sampai terlewatkan.
Paling tidak harus menunggu sampai tahun
depan untuk menikmatinya lagi.