Rabu, 07 November 2007

Gambar Jorok


Ini saya gambar dengan iseng di sela-sela pekerjaan. Suatu kelakuan, jujur saja, saya semasa kecil dulu. Ternyata saya juga menemui banyak teman yang kelakuannya seperti saya dulu!!!

Dan entah mengapa, gambar ini banyak yang minta untuk dikoleksi. Dijadikan wallpaper komputer dan sebagainya. Saya pun memperbolehkannya. Termasuk kepada Anda yang juga mau mencopynya.

Apa menariknya ya gambar saya ini?
hehehe

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Menurut saya, yang menjadikan gambarmu menarik dan berbeda adalah kepolosan (keluguan/tanpa kepalsuan). Hal tsb terlihat pada wajah si tokoh maupun content materi yang ditampilkan.

Sekarang sangat susah untuk bisa tampil polos, semua harus dikemas dalam norma-norma (misalnya ngupil itu jorok, jd jangan ngupil), atau bahkan aturan protokoler (misalnya kalau ngupil ke kamar mandi!).

Bayangkan betapa susahnya hidup bermasyarakat. Padahal kalau dipikir-pikir, orang ngupil itu kan juga dihidungnya sendiri, ga mengganggu orang lain. Kenapa kok pada sewot dan memberi aturan neko2? Lha kalau orang itu ngupil di hidungmu, kamu boleh marah :p

Padahal, kalau kita cari latar belakangnya dan mau mengerti, orang ngupil itu karena ada sesuatu yang tidak enak dihidungnya. Makanya dia mencari rasa 'relieve' (terbebas, lega) dengan cara ngupil. Lha itu kan mirip dengan orang membersihkan slilit di gigi? Bayangkan betapa tidak enaknya kalau setelah makan nylilit. Bukankah kita secara naluri akan berusaha membersihkan slilit itu, biar 'ga nganjel'.

Dua hal itu kan tidak mengganggu lingkungan. Lain halnya kalau orang kentut sembarangan. Meskipun itu untuk membebaskan diri dari rasa nganjel, tapi itu mengganggu kestabilan sosial politik di negara tetangga atau setidaknya lingkungan sekitar. Masih masuk akal kalau ngentut diatur dalam suatu norma dan protokoler tertentu. Kecuali anda bersaksi dan menjamin bahwa kentut anda tidak bau.

Kembali lagi ke gambar karikaturmu, kalau orang-orang suka dengan gambarmu mungkin ada sesuatu yang lebih besar dibanding dengan apa yang ada digambar itu sendiri (kepolosan tokoh dan materi).

Mungkin mereka suka karena karikaturmu itu suatu bentuk pemberontakan terhadap belenggu sosial, misalnya. Betapa tidak, orang ngupil diatur, bersihkan slilit diatur, kentut dilarang, kencing bayar, parkir bayar, bahkan orang mati pun masih disuruh bayar sewa tanah kuburan. Pancen donyane wis UEDAAAAAN TENAN.

Lha kalau orang yang sudah meninggal pun masih belum bisa beristirahat dengan tenang (mikir bayar sewa TPU), trus dimana nilai kemanusiaan seorang manusia? Utawa aja2 menungso wis ora ana bedhane karo kewan?

Yang mbaca masih manusia atau sudah hewan? :-)

Semoga........
a.sama sama hewan, seperti yang nulis coment ini.
b.hewan, biar yang nulis coment ini dianggap manusia satu-satunya.
c.sama-sama manusia, biar kita bisa berbagi nilai kemanusiaan.