Kamis, 2009 Maret 12

NORTH Art Space. Gallery Baru di Pasar Seni Ancol

Pasar Seni Ancol, Jakarta, tampaknya mulai merubah image dengan melakukan revitalisasi besar-besaran.



Gedung manajemen yang didalamnya terdapat banyak fasilitas dari kelas-kelas seni dan juga kantor Pasar Seni Ancol serta kantor Ancol Art Academy mulai dirombak. Galeri yang berada di atas juga dilakukan perombakan.






Desain ulangnya tampak lebih modern, walaupun belum selesai dan masih banyak material bangunan di depannya. Bagian dalamnya pun juga tampak nyaman dengan penikmat ruang pameran bisa terlihat dari bawah. Dan yang di bahwah bisa melihat suasana di galeri bagian atas.



Galeri Pasar Seni dengan sudut pandang dari lantai dasar.



Tangga menuju Galeri Pasar Seni Ancol di lantai 2.



Lantai 1 dilihat dari lantai 2.
Bagian relling tang terbuat dari kaca yang kuat menjadikan tempat ini lebih tampak berkelas.



Pemandangan di dalam galeri (lantai 2)
Sekarang tampak lebih luas dengan tata cahaya yang akan membuat karya-karya yang dipamerkan menjadi fokus dan berkelas.

~~~

NORTH Art Space. Itulah nama yang akan disematkan pada galeri baru di Pasar Seni Ancol ini. North Art Space (NAS) merupakan tempat berekspresi bagi para seniman di Indonesia. Tak hanya sebatas seniman di dalam Pasar Seni saja, tetapi seluruh seniman yang memenuhi kualitas untuk tampil melakukan ekshibisi di galeri atau area Pasar Seni Ancol.

NAS diharapkan menjadi pusat kegiatan pengembangan dan penyajian karya seni rupa yang dinamis, kreatif, inovatif, dan demokratis untuk meningkatkan apresiasi seni masyarakat Indonesia yang memiliki jati diri budaya kuat di tengah pergaulan dunia yang pada akhirnya bermuara pada kegiatan bisnis yang mengontribusikan keuntungan untuk perusahaan

Untuk mencapai hal tersebut maka NAS mengembangkan potensi karya seni rupa dengan mengedepankan kualitas karya. Mengembangkan karya seni rupa dengan memberi ruang kepada seniman berpotensi. Menghimpun, melestarikan, dan mengembangkan karya seni rupa dalam lingkup nasional maupun internasional. Memberdayakan kreatifitas dan profesionalisme pelaku seni melalui program pameran, pendidikan, penelitian, penukaran, workshop, kompetisi dan komitmen. Mengembangkan pemikiran, pandangan dan tanggapan terhadap karya seni rupa dalam kerangka peningkatan wawasan dan perluasan komunitas kreator dan apresiator. Memberikan pembelajaran seni kepada publik kelalui program yang bersifat edukatif-kultural dan rekreatif.

Bisnis karya seni adalah sebuah bisnis yang tidak mengenal kata surut. Seiring berjalannya tahun, bisnis ini tetap berkembang seakan mengabaikan kondisi perekonomian global. Dari pengalaman beberapa galeri besar, ketika krisis ekonomi tahun 1997 melanda Asia termasuk Indonesia, bisnis ini tetap melangkah ke depan. Bahkan ketika krisis di Indonesia belum pulih, ada galeri Indonesia yang mampu membuka cabangnya di luar negeri seperti di Singapura.

Membanjirnya perupa dan galeri dari Indonesia sebagai suatu berkah harus dibarengi dengan ketajaman indera bisnis pelakunya. Sisi komersialisasi suatu galeri akan dapat digali secara maksimal dengan menentukan strategi bisnis yang tepat

Nama besar Ancol sebagai salah satu pelaku bisnis rekreasi yang berada di bawah payung pariwisata merupakan modal luar biasa. Pariwisata memiliki saling keterkaitan dengan seni, dimana pariwisata membutuhkan seni. Dalam hal ini seni ditempatkan pada posisi yang strategis yaitu sebagai salah satu obyek pariwisata bergengsi di Ancol Dengan berlokasi di ibukota negara, Ancol merupakan tempat yang strategis dalam memasarkan seni rupa karena merupakan tujuan turis domestic maupun asing.

Rabu, 2008 Juli 09

Pengumuman Nominator Jakarta Art Awards 2008

Silakan klik di sini:



Untuk para nominator, harap mengirimkan karya asli ke alamat:

Panitia Jakarta Art Awards 2008
Pasar Seni Ancol
Jl. Lodan Timur no. 7
Jakarta Utara
14430

Sebelum tanggal 16 Juli 2008.

Minggu, 2008 April 20

Jakarta Art Awards

Pemerintah DKI Jakarta dan Pasar Seni Ancol Jakarta mengajak para pelukis Indonesia untuk berkompetisi secara terbuka dalam Jakarta Art Awards 2008. Kompetisi ini adalah untuk ketiga kalinya, setelah DKI Jakarta dan Pasar Seni Ancol sukses menyelenggarakan Golden Palette Awards 2005 dan Jakarta Art Awards 2006.


TEMA : WARNA-WARNA JAKARTA


Sub Tema:

  1. Jakarta Representasi Indonesia

  2. Jakarta Dalam Balada

  3. Jakarta Negeri Impian?


Penghargaan dan Hadiah:

Memperebutkan 7 penghargaan dengan total hadiah Rp. 230.000.000,-

  • Piala Penghargaan + Piagam


Dewan Juri:

1. DR. Ing. H. Fauzi Bowo (Kolektor, Gubernur DKI Jakarta)

2. Prof. DR. Miranda Goeltom (Pemerhati seni)

3. DR. Hc. Ir. Ciputra (Arsitek, kolektor)

4. Prof. Srihadi Soedarsono, MA. (Pelukis)

5. Drs. Nyoman Gunarsa (Pelukis)

6. Agus Dermawan T. (Kritikus seni)

7. Drs. Soewarno Wisetrotomo, M.Hum. (Kritikus, akademisi)

8. S. Malela Mahargasarie (Pengamat seni)

9. Efix Mulyadi (Pengamat seni)


Syarat Keikutsertaan:

  1. Peserta minimal berusia 15 tahun, WNI dan berdomisili di Indonesia.

  2. Peserta menyertakan fotokopi KTP atau identitas lain.

  3. Media yang digunakan bebas dengan ukuran antara 50 sampai 200 centimeter.

  4. Peserta mengirimkan foto lukisan dalam ukuran 10 R, dengan disertakan; judul lukisan, ukuran, media, tahun pembuatan yang ditulis di balik foto dengan disertai konsep, isi atau muatan karya yan dikompetisikan.

  5. Peserta boleh mengirimkan maksimal 5 (lima) karya dan diwajibkan menyertakan 2 foto karya lain untuk referensi bagi Dewan Juri.

  6. Karya yang boleh diikutkan adalah ciptaan tahun 2007 dan 2008.

  7. Pelukis mengirimkan lukisan dengan biaya sendiri, dan panitia akan mengembalikan lukisan para pemenang dan finalis dengan biaya panitia.

  8. Foto lukisan diterima selambat-lambatnya oleh panitia tanggal 1 Juni 2008, cap pos.

  9. Nominator kompetisi akan dihubungi secara tertulis oleh panitia dan akan diumumkan pada tanggal 22 Juni 2008.

  10. Pemenang kompetisi akan diumumkan bulan Juli 2008 di Pasar Seni Ancol.





Alamat Panitia Lomba:

Karya-karya yang disertakan dikirim ke :

Panitia Jakarta Art Awards 2008

PASAR SENI ANCOL

Jl. Lodan Timur No. 7

Jakarta Utara, 14430

Telp./Fax. 021-64710319

CP : Drs. Bogang Suharno (081310636733)

Dhanan (021 98762921)

e-mail : jaa@ancol.com

Jumat, 2007 Desember 14

Laporan: Ancol World Music 2007






Sempat diguyur hujan sore hari. Tim sound sempat terjadi kesibukan kecil yang tiba-tiba, tenda yang kurang lebar segera diganti dengan tenda yang lebar. Hanya sebentar saja hujan turun, bikin Pasar Seni Ancol makin sejuk. Padahal sesiangan panasnya bagai ada 5 matahari di atas Ancol!
Beberapa latihan sempat tertunda. Namun tak mengurangi kenikmatan menonton pertunjukan langka ini.

Jika anda datang ke Pasar Seni Ancol tanggal 8 Desember 2007 kemarin, maka anda akan merasakan rasa lain dari irama Indonesia. Musik etnik khas Indonesia bercampur dengan musik melodi masa kini. Tak jarang jika ditemukan banyak kejutan dalam pengalaman dengar kita.

Pukul 19.30 WIB Shanaz Haque dan Farid Shigeta, selaku MC, langsung ngebuka acara yang bertema penghijauan ini. “Menanam, Menumbuhkan Harapan” tajuk acaranya. Kedua MC pun berkali-kali mengkampanyekan tentang bahaya eksploitasi hutan dan pentingnya reboisasi. Yang menarik, di depan panggung ada sekitar 4000 bibit pohon jati yg siap dibagkan kepada penonton di akhir acara.

Acara dibuka dengan tarian multi etnis sambil menabuh tamborin. Tarian ini lebih menonjolkan etnis Jepang. Kemudian Viky Sianipar tampil dengan formasi yg kurang lebih sama dengan yang biasa ditampilin di Java Jazz. Membawain beberapa lagu dari album Toba Dreams dan Indonesian Beauty, Viky tampil atraktif bermain keyboard juga gondang batak di beberapa lagu. Teuku Rio juga mengiringi pementasan Viky Sianipar. Dengan membawakan musik cyang berjudul Journey to Deli dengan memberi ruang untuk jamming dengan beberapa player seperti pemain suling, gitar dan Viky sendiri pada keyboard. Palti Raja yang kerap dimaenkan juga asik banget dan bikin beberapa penonton manggut-manggut dan bergoyang-goyang. Sesudah pentas, Viky ngobrol sebentar dengan MC sambil nunggu set panggung buat next performer. Selain ngobrol, Viky juga 'dihadiahi' bibit pohon jati untuk ditanam.

Musisi selanjutnya adalah kolaborasi tiga mantan personil Krakatau tampil berikutnya setelah Viky Sianipar. Yaitu; Indra Lesmana (piano), Gilang Ramadhan (drums) dan Pra Budhi Dharma (bass) yg tergabung dalam Kayon - The Three Of Life tampil asik banget. Meski cuma bertiga tapi musik mereka terasa penuh mengusung tema Indonesia secara keseluruhan, mereka memainkan lagu-lagu yg mewakili beberapa daerah Indonesia seperti Betawi, Jawa, Sunda, Bali dan Melayu. Kerennya, mereka tidak membutuh alat musik tradisional untuk menciptakan kesan etnik tersebut. Dentingan piano, pukulan drum dan cabikan bass mereka cukup mampu untuk membuat kesan etnik. Bahkan Indra Lesmana pun tak hanya memainkan tuts piano tapi juga memetik senar piano yg ada di dalam badan piano untuk mengeluarkan bunyi-bunyi yg unik. Seperti juga Viky, mereka pun sempat ngobrol sebentar dengan MC dan penonton, serta tak lupa diberi oleh-oleh bibit pohon jati..

Musik Asia Selatan mengalun rancak. Diiringi tarian kembali menyelingi acara. Dua penari india yang tampil satu persatu meliuk-liuk di bawah panggung memukau penonton. Jangan salah, tari india yg ini jauh beda dengan yg biasa ada di film-film india.

Selanjutnya Balawan tampil setelah tarian india tersebut. Seperti biasa, ia bersama rekan-rekan Batuan Etnik Fusion dan satu violis tamu. Balawan membawakan beberapa lagu yang sudah lumayan akrab di kuping penggemar jazz & world music seperti Magic Reong dan Mainz In My Mind.. Yang agak berbeda kali ini adalah Balawan tidak memainkan gitar double necknya melainkan dua gitar yg salah satunya dipasang di sisi panggung.. Malam itu juga tak ada atraksi 'tabuh perkusi' di gitarnya. Tapi itu tak mengurangi keasikan penampilannya karena beberapa lagu juga diperpanjang durasinya dengan jamming.. dan kselesai tampil, Balawan pun tak luput dari pemberian amanat penanaman pohon jati setelah sebelumnya sempet ngobrol2 dengan MC dan penonton.

Simak Dialog tampil selanjutnya, nama yang unik ditambah kekhasan dari grup musik ini adalah kendang sectionnya. Ketiga personelnya itu terlihat menyatu dengan instrumen yg lain. Sengaja mereka memampatkan durasi musik mereka, karena versi aslinya memang sangat panjang, apalagi hari juga semakin malam.

Selesai Simak Dialog, Nugie tampil akustikan. Agak janggal juga melihat Nugie tampil di tengah-tengah performe world music. Tapi memang tema acara itu memang sangat cocok untuk Nugie memang ikon dari kecintaan terhadap alam. Tampil minimalis dengan gitar akustik, Nugie sangat komunikatif dengan penonton. Bukan hanya karena lagu-lagunya yang sudah akrab di kuping penonton, tapi juga di tengah-tengah lagu Nugie menitipkan pesan-pesan tentang lingkungan hidup yang juga menyatu dengan lagunya.

waktu Nera tampil menutup acara, scating vokalisnya mirip-mirip dengan seruan-seruan a la papua pedalaman.

Acara yang menarik untuk selalu disimak dan memanjakan indera pendengaran. Sebuah pengalaman lain bagi rasa dalam batin. Mengobati rasa kangen pada impuls-impuls di Pasar Seni Ancol. Sampai Jumpa dalam Ancol World Music 2008.

Tulisan dan beberapa foto dari Troy (http://sitroy.multiply.com/photos/album/20/Konser_Ancol_World_Music_Festival



Senin, 2007 Desember 03

World Music

Sewaktu saya pertama kali melihat musik Viky Sianipar, secara tak sengaja karena niatnya nonton launching album Sudjiwo Tedjo yang berjudul "Yaiyo", saya terkesima dan kagum dengan keindahan instrumen musik Indonesia yang dibawakannya dengan cara yang berbeda. Beberapa instrumen musik yang digunakan pun tidak saya kenal, namun mempunyai jenis bunyi yang unik.

Sebelumnya.
Dulu saya menyukai musik Djaduk Ferianto yang juga menggabungkan alat musik tradisional dengan alat musik modern. Malah semenjak kecil saya menyukainya, mungkin karena tinggal di kota yang sama d
an kental akan kegiatan keseniannya. Masih teringat sampai sekarang lagu "Menyanyi di Televisi" dan "Kopi Bu Sukopi"-nya Djaduk yang waktu itu nama bandnya, kalo tidak salah, Katebe. Bahkan bintang video klipnya pun saya masih inget. Didik Nini Thowok. Dan ditayangkan di TVRI Jogja. Djaduk menggabungkan irama keroncong dengan rasa rock yang lembut lewat gitar listrik dan drum-nya. Terkadang suara ukulele menimpali. Walaupun saya tak yakin dengan ingatan masa kecil saya itu, namun lagu-lagu itu sampai sekarang masih terngiang di kepala.

Saya tak tahu banyak tentang dunia permusikan. Membaca not aja saya kesusahan. Antara pentatonik dan diatonik
pun saya masih bingung. Namun saya juga terkagum-kagum saat Jaya Suprana, dalam sebuah acara di Jak-TV Jakarta, mendemonstrasikan dengan piano perbedaan antara intonasi musik dangdut, musik Sunda dan musik Jawa. Ai... betapa kayanya khasanah musik Indonesia ya!

***

Yang lebih mengagumkan lagi. Dan saya juga terkaget-kaget, setengah tak percaya. Aliran musik Indorock yang popul
er di Belanda lalu Eropa tahun 60'an diperkenalkan oleh putra-putra Indonesia. The Tielman Brothers nama grupnya. Asli Indonesia. Kebanyakan personelnya dari Maluku. Tapi memulai karir musiknya di Surabaya dan hijrah ke Belanda. Mereka menggabungkan musik keroncong yang terimbas juga budaya Portugis, dengan musik rock dan didominasi oleh permainan gitar yang mumpuni, maka lahirlah Indorock!

Hanya ironisnya. Jarang masyarakat Indon
esia yang mengetahuinya. Jauh sebelum Jimy Hendrix memainkan gitar dengan gaya yang memukau, The Tielman Brothers sudah memulainya lebih dulu. Bahkan permainan musik dan aksi panggung mereka yang enerjik menjadi trend baru di Eropa waktu itu! Mereka sudah memainkan gitar dengan kaki, gigi, memainkan gitar di belakang kepala bahkan dipukul dengan stick drum! Dan kabarnya, Sir Paul McCartney yang anggota The Beatles itu mengakui jika musiknya terinspirasi dari The Tielman Brothers (jika anda sudah mendengarkan musik The Tielman, pasti ada kemiripan dengan beberapa aransemen The Beatles atau di lagunya Elvis). Dan saat The Tielman melakukan konser di Jerman, Elvis Presley pun menyempatkan diri untuk hadir di sana.

***

Begitu kayanya khasanah musik Indonesi
a jika dieksplor. Digali. dan dikembangkan. Benih yang ditanam nenek moyang kita akan berkembang oleh anak-cucunya. Budaya tak pernah berhenti, dan sejarah tak pernah salah. Indonesia punya banyak budaya tinggi. Walau bangsa lain mengaku dirinya memilikinya, maka sejarah akan membenarkan dengan caranya.

Hal ini juga yang mengilhami untuk dibuatnya suatu event yang mengeksplor khasanah musik Indonesia. Tanggal 8 Desember 2007 ini, bertempat di Pasar Seni Ancol, musisi-musisi Indonesia akan
mengeksplor ragam musik tradisional. Inilah saatnya tradisionalisme bersatu dengan modernisme.

Dengan digawangi oleh Indra Lesmana,
Pra Budidharma, Gilang Ramadhan, Viky Sianipar, Balawan dengan Batuan Etchnic Fusion-nya, Nugie, Riza Arshad, Tohpati serta Nera mereka akan menunjukkan kekayaan musik Dunia dan Indonesia, khususnya. Tak lupa Shahnaz Haque dan Farid Shigeta akan memandu acara yang akan dimulai jam 7 malam itu.

Dunia begitu indah dengan iramanya.
Sayang jika acara ini sampai terlewatkan.
Paling tidak harus menunggu sampai tahun
depan untuk menikmatinya lagi.





Senin, 2007 November 12

Komunitas

KOMUNITAS. Yang membedakannya dengan kerumunan adalah tujuan yang akan dicapai. Kerumunan umumnya tak punya tunjuan dan satu sama lain tak saling mengenal serta tak ada ikatan emosional yang membuat mereka berkumpul.
Menurut Rizalun, seniman dari Jogja, bahwa Komunitas akan bisa lahir dengan sendirinya di satu area sosial, lingkup profesional dan sebagainya sebagai tempat untuk mengakomodir segala daya dan pikirannya.
Ikatan emosional yang kuat yang sepikiran, walaupun kadang terjadi perbedaan pikiran didalamnya, membuat hubungan sosial di suatu komunitas menjadi kuat. Namun hubungan yang bersifat sosial inilah yang membuat suatu komunitas bisa kembang kempis jika tak mampu merawatnya. Namun jika berhasil merawatnya, komunitas akan menjadi kekuatan tersendiri dalam suatu golongan. Kekuatannya bisa sangat tak terduga, karena di dalamnya terdapat orang-orang yang memegang teguh ide besar dan tujuan bersama suatu komunitasnya.
Jenjang yang lebih tinggi dari komunitas adalah organisasi. Selain ikatan sosial dan emosional, organisasi mempunyai peraturan yang ditetapkan.
Dari sebuah pertanyaan yang keluar dari Arif Wicaksono, seorang DJ yang populer dengan nama DJ Bachox’s. Bisakah sebuah komunitas menciptakan sebuah tren? Kekuatan sebuah komunitas bisa saja menghasilkan suatu trend baru. Karena pesan yang disampaikan dijalankan, kebanyakan, dengan cara dari mulut ke mulut(getok tular). Suatu proses marketing yang saat ini sedang trend karena kekuatannya pengaruhnya pada konsumen melebihi iklan-iklan media konvensional.
Lewat pernyataan sikap dan pendapatnya suatu komunitas menjadi dikenal banyak orang dan besar dengan sendirinya. Contoh yang paling hangat adalah pernyataan Roy Suryo, yang mengatasnamakan komunitas Air Putih, dimana Roy Suryo memproklamirkan diri sebagai penemu lagu asli Indonesia Raya 3 stanza. Komunitas Air Putih menjadi dikenal banyak orang, walaupun Roy Suryo sendiri mendapat ratusan pujian dan sejuta makian dan sumpah serapah dari para netter dan para geeks.
Setiap komunitas mempunyai cirinya masing-masing. Dan kita tak dapat menutup mata jika antar komunitas saling ngotot dengan argumentasinya. Memang disitulah fungsinya. Suatu hal yang tidak salling melemahkan, namun menguatkan.
Sebuah kutipan dari bukunya Pramoedya Ananta Toer (Jejak Langkah); "... Kau tak akan sanggup melawan sendiri. Lawanlah dengan organisasi/komunitas, di situ kau akan menjadi besar." Begitu kurang lebihnya.

Kutub Seni dan Komunitas yang Hilang

SEWAKTU saya bertemu teman saya di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, beberapa minggu lalu, obrolan tentang tumbuhan anthurium atau lebih dikenal dengan nama gelombang cinta yang harganya sedang ampun-apunan itu tiba-tiba bergeser ke obrolan tentang sebuah acara seni yang punya tema "Schopophilia Hiruk-Pikuk Seni Rupa" yang merupakan acara dari Jambore Seni Rupa Nasional VII yang diadakan di Pasar Seni tanggal 27 September sampai 6 Oktober 2002. Kebetulan teman saya itu juga menjadi salah satu peserta di acara itu, Saat itu dia masih tercatat sebagai mahasiswa Kedokteran Hewan UGM. Dengan menggebu-gebu dia menceritakan sedikit tentang bagaimana kehidupan seniman di masa itu, karena memang dia lebih tua beberapa tahun daripada saya.
"Acara Schopophilia itu sangat menarik." Paparnya dalam bahasa Jawa khas Jogja. "Jambore tahun itu sangat ramai, waktu itu antara seniman Jogja dan Jakarta memang ada suatu rivalitas, persaingan yang membuat kehidupan seni menjadi menarik dan dinamis. Seniman Jogja membawa kreatifitas khas Jogjanya yang dalam. Sedang seniman Jakarta khas dengan karyanya yang simpel. makanya jika ada diskusi seni akan selalu menarik dan ramai. seniman kedua kota selalu terlibat dalam argumentasi-asrgumentasi yang seru. Namun saat ini seniman Jogja tampaknya sudah mulai terseret dalam arus kesenian Jakarta. Jadi seni yang sekarang ini berkembangterasa monoton."
Pernyataan teman saya itu ternyata ditanggapi dengan manarik oleh seniman-seniman Jogja yang tergabung dalam forum Milisi (www.milisi.org) milik alumni Institut Seni Indonesia (ISI). Kebanyakan merasa tidak terima jika ada semacam “permusuhan” antara seniman Jogja dan Jakarta. Namun mereka meng-amini bahwa perbedaan dan persaingan adalah sesuatu yang perlu terus dihidupkan dalam berkesenian.
Seperti yang diungkapkan oleh Tanktermos, seorang anggota dari forum Milisi, bahwa rivalitas, pertentangan dan homogenitas dalam kesenian wajar saja.
Pendapat itu dikuatkan juga oleh Husni, anggota yang lain dalam forum itu, bahwa perbedaan dan persaingan akan selalu ada, dan selama perbedaan dan persaingan masih dalam koridor berkarya dan beradu argumen adalah hal yang wajar dan baik. Namun jika perbedaan dan persaingan mengarah pada adu jotos dan cacimaki itu sangat kekanak-kanakan dan wagu.
Namun bagi saya fenomena yang coba dipaparkan oleh teman saya yang ketemu di TIM itu saya sadari juga. Saya coba mengingat-ingat saat saya masih kuliah, orang-orang seangkatan saya dan teman-teman yang angkatannya di bawah saya yang mencoba mengabdikan diri dalam karya-karyanya sudah mengalami pola yang sama, dari cara berpakaian, belahan rambutnya, tas yang selempangkan, warna-warna pastel dan lain sebagainya. Ah, mungkin saja iya mungkin saja tidak. Itu kan proses dari perbedaan itu, maka muncullah perkembangan ini. Jadi fenomena dan buah bibir. Mungkin hanya trend mode. Mode kan juga salah satu bentu seni. Namun jika homogenitas itu benar terjadi.... Hiiii.... Betapa ngerinya!
Homogenitas benar-benar terjadi!
Tampaknya memang sedang terjadi. Silakan bayangkan kengeriannya. Jika seni punya gaya yang sama, homogen, dapat ditemui dimana-mana, maka tak perlulah berkomunitas. Toh semua seni jadi sama, tak perlu jauh-jauh lagi untuk menikmatinya apalagi mengkoleksi. Ditambah dalam era internet atau dunia maya ini, hanya dengan menggeser mouse komputer kita sudah bisa keliling dunia dari kamar kita. Menikmati Louvre atau mengikuti lelang di Christie. Komunitas-komunitas jadi surut. Mana ada yang mau bertandang lagi. Pasar Seni Ancol sepi. Galeri sepi. Pameran seni hanya ramai di awal karena pembukaannya selalu makan-makan.
-o0o-
Intinya adalah kebaruan, kalau boleh saya bilang, tapi kalau anda mau bilang lain ya silakan. Suatu perbedaan akan menumbuhkan hal baru. Entah itu kebaruan karena terinspirasi dari seni lama atau benar-benar baru. Namun dalam kebaruan yang identik dengan orisinilitas masih saja ada perdebatan di banyak seniman yang menganggap bahwa orisinalitas is bullshit! Karena tak ada hal yang baru, suatu hal baru pasti terinspirasi dari hal lain. Maka tak akan ada yang benar-benar baru. Anda mau setuju atau tidak dengan pandangan itu silakan anda sikapi masing-masing. Karena banyak sudut pandang akan menumbuhkan argumen yang berbeda-beda.
Modern menjadi posmodern. Budaya instan hasil modernitas. Adalah hasil utak-atik dari budaya lama. Dimantapkan dengan kemunculan MTV di tahun 1981 menjadikan kaum muda di era 80’ dan 90’an berpikir dengan cara yang sama. MTV mengolah segala perbedaan yang ada di dunia ini, mencampuradukkan satu sama lain. MTV menjadi kiblat bagi anak muda audiensnya. MTV punya cara yang beda dalam merangkul audiensnya. Gaya pembawa acara yang dinamai VJ (Video Jockey). Bahasa yang digunakan. Setting studionya yang warna-warni. MTV menjadi fenomena dalam dunia broadcasting.
Ah... Sudahlah tentang MTV!
Yang baru akan memunculkan hal baru, selama masih ada kutub-kutub yang berbeda. Dan setelah yang baru muncul, maka yang belakang tinggal sejarah. Sukur-sukur jadi inspirasi bagi munculnya sesuatu yang baru di masa depan.
Yang tak mengikuti?
Yang tak mengikuti hanya jadi penonton, mungkin setelah dia menjadi pemeran yang hebat di masanya. Lama kelamaan akan hilang dengan sendirinya. Atau tetap survive dengan sisa-sisa kekuatan yang ada. Atau tetap eksis dengan terjebak dalam kenangan-kenangan hebat di masa lalu. Dilupakan. Dikenangkan. Atau tetap menjadi pemeran kunci dengan hal-hal baru.



Perbincangan tentang ini
juga sedang berlangsung juga di
www.milisi.org
"Seniman; Antara Jogja dan Jakarta."